Kecanduan Smartphone pada Anak

dr. Isa Multazam Noor, SpKJ

Masalah kecanduan pada dekade belakangan ini tidak hanya terbatas pada ketergantungan terhadap zat semata. Perkembangan teknologi telah membawa individu manusia kepada jenis ketergantungan baru yang bersifat non zat (substance), yaitu kecanduan pada peralatan digital atau gadget berupa smartphone (telepon pintar). Fenomena ini berkembang semakin nyata dengan kemunculan berbagai telepon pintar yang user friendly dan menghadirkan berbagai aplikasi untuk tujuan kemudahan. Kehadiran telepon pintar laksana sebuah pisau bermata dua, selain membawa keuntungan dalam memudahkan pekerjaan tetapi juga menciptakan masalah perilaku baru berupa kecanduan terhadap smartphone.

Kecanduan smartphone telah menjadi masalah kesehatan yang isunya sedang menglobal di negara Asia. Kecanduan smartphone menjadi pintu gerbang dari kecanduan terkait lain, mulai dari kecanduan games online, internet, bahkan sampai berujung pada pornografi. Gadget dan sabak digital sepertinya kini telah menjadi alat canggih yang umum digunakan oleh anak, khususnya yang tinggal di daerah perkotaan.

Alat canggih yang bersifat digital tersebut seakan telah menjadi “teman akrab anak” yang setia dan siap menemani sepanjang waktu. Penggunaannya yang sangat user friendly memberikan kemudahan pada anak, karena dengan sekali mengklik maka dunia baru yang bersifat virtual pun hadir dihadapannya. Telepon pintar menjadikan anak makin betah berlama-lama bersama gadget dan sabak digital yang mengasyikan itu. Anak makin asik berselancar di dunia maya dan nempel pada aplikasi yang tersaji pada fitur dari telepon pintar. Smartphone menjadi alat canggih yang tidak dapat terpisahkan dalam kehidupan modern yang serba digital dan menjadi alat mobile yang mudah digunakan.

Teman main anak yang biasanya di peroleh melalui aktivitas bermain bersama secara nyata kini telah digantikan oleh sebuah gadget atau sabak gidital yang multi fungsi tersebut. Smartphone kini telah kehilangan fungsi awalnya sebagai alat komunikasi. Anak malah kemudian menjadikannya sebagai “mainan” yang sungguh mengasyikan.

Fenomena ini tentunya perlu disikapi dengan baik, karena lambat laun akan menciptakan jenis kecanduan baru yang sifatnya non zat (substance). Hal ini tentunya menjadi masalah perilaku baru pada anak yang perlu mendapatkan perhatian. Upaya pencegahan atau preventif perlu digalakkan melalui peran serta orangtua dalam problematika penggunaan smartphone dan sabak digital pada anak. Kehidupan kosmopolitan di ibukota Jakarta yang menuntut kecepatan dalam berpacu dengan waktu membuat orangtua perkotaan yang sibuk bekerja menjadi lalai dan membiarkan anaknya menggunakan smartphone.

Saat anak tampak duduk manis dan asyik memainkan berbagai aplikasi dan fitur dalam alat canggih tersebut, maka orangtua menjadi senang padahal hal itu menjadi boomerang untuk terjadinya masalah keterlambatan bicara pada anaknya. Aplikasi smartphone menciptakan ketiadaan interaksi yang bersifat komunikasi dua arah antara orangtua dengan anaknya. Studi menunjukkan bahwa pola asuh orangtua yang permisif memiliki kemungkinan besar untuk anaknya mengalami permasalahan kecanduan smartphone.

Generasi anak sekarang ini memang merupakan kelompok usia yang sangat berbeda dengan generasi terdahulunya. Anak zaman sekarang dikenal dengan sebutan generasi millennium ini lahir pada abad 20 dan tidak merasakan segala teknologi yang bersifat analog dan hitam putih seperti orangtua atau kakek dan nenek mereka. Mereka lahir dengan segala fasilitas canggih yang memanjakan di perkembangan dunia yang serba digital. Kelompok anak tersebut dinamakan dengan anak millennium.

Kehadiran peralatan canggih yang sangat memudahkan ini tentunya dapat membawa impilkasi terhadap masalah perilaku dan perkembangan jiwa dari anak. Masalah kesehatan jiwa yang dijumpai dapat berupa: masalah hiperaktivitas, impulsivitas, in atensi (sulit konsentrasi), keterlambatan bicara, menolak sekolah (school refusal), cemas, depresi, emosi labil, agresif, ganguan perilaku (conduct disorder), gangguan pola makan, perilaku kekerasan, dan bullying. Hal yang tentunya sangat vital adalah timbulnya kecanduan internet dan smartphone pada anak. Kecanduan smartphone menjadi pintu masuk bagi kecanduan yang lainnya, seperti game online, video games, kecanduan alkohol dan pornografi.

Kecanduan internet dan telepon pintar tentunya juga dapat berujung pada permasalahan kesehatan fisik berupa obesitas, gangguan penglihatan, dan gelombang impulsif pada gambaran EEG (rekam listrik otak) dari anak. Obesitas muncul akibat aktivitas yang tidak berpindah pada penggunaan smartphone atau internet (komputer). Sedangkan gangguan penglihatan timbul akibat waktu kontak yang lama dengan layar telepon pintar atau komputer. Laporan di Taiwan bahkan menunjukkan bahwa kecanduan internet berhubungan dengan perilaku bunuh diri pada remaja.

Studi penelitian tahun 2013 pada 6 negara di Asia pasifik menunjukkan bahwa kepemilikan smartphone berkisar antara 41-84% pada remaja di Asia. Kecanduan game online tertinggi pada remaja di Jepang (39%), sedangkan jumlah penggunaan internet harian terbanyak di jumpai pada remaja Hong Kong (68%). Kecanduan internet tertinggi terdapat pada remaja di Filipina (51%). Studi lain juga menunjukkan bahwa pelajar SMA menunjukkan skor kecanduan games rata-rata yang lebih tinggi daripada pelajar SMP.

Kecanduan smartphone pada anak dipengaruhi oleh berbagai faktor yang berhubungan dengan variabel orangtua ataupun anak. Studi di Korea Selatan menunjukkan bahwa variabel orangtua yang banyak menggunakan smartphone cenderung memiliki anak yang mengalami permasalahan kecanduan terhadap smartphone. Studi di Korea Selatan menunjukkan bahwa remaja yang memiliki aktivitas sosial remaja-orangtua secara bersama dan melakukan dialog atau bertukar pendapat diantara remaja-orangtua terkait permainan game memiliki masalah penggunaan gma online yang lebih rendah.

Sedangkan pada variabel anak, dijumpai bahwa semakin sedikit jumlah saudara kandung menyebabkan semakin banyak waktu yang dihabiskan oleh anak secara sendirian sehingga makin tinggi kemungkinan untuk mengalami kecanduan terhadap smartphone.

Studi lain melaporkan bahwa angka kecanduan internet sesuai kelompok usia adalah sebagai berikut: remaja (10.7%) yang tertinggi, kanak akhir (9%), dan usia 5-9 tahun sebanyak 7.3%. Untuk kelompok usia anak pra sekolah terjadi peningkatan dari 3.6% menjadi 4.3%. Bahkan laporan terbaru menyimpulkan bahwa satu dari tiga anak yang menggunakan smartphone mengalami permasalahan kecanduan telepon pintar. Usia rata-rata pertama anak bermain games pun menurun ke usia 4.8 tahun pada tahun 2012.

Upaya preventif yang dapat dilakukan oleh orangtua terhadap fenomena kecanduan smartphone ini adalah pemberian aturan yang jelas dan konsisten terkait penggunaan smartphone, dapat mengenali burn out dalam beban akademik (tugas pelajaran) anak di sekolah, memiliki waktu yang berkualitas dan kuantitas dengan anak (rekreasi atau main games bersama), minimalisasi konflik orangtua-anak, memperkuat ikatan keluarga, waktu penggunaan akses internet, menegmbangkan keterampilan sosial dan strategi pemecahan masalah pada remaja, optimalisasi peran bermain dengan teman sebaya (peer group) dan berperan sebagai teman dalam berdiskusi tentang pandangan orangtua akan bermain games (positif dan negatif) dan penggunaan telepon pintar, tehnologi informasi, internet atau sabak digital yang sehat dan tidak hidup dalam dunia maya.

Sebagai simpulan, perlunya peran serta orangtua dan keluarga dalam mengontrol penggunaan smartphone dan edukasi yang penting dalam penggunaan alat digital yang canggih dalam kehidupan sehari-hari dalam keluarga inti. Tentunya penting akan upaya awareness orangtua dan masyarakat terhadap bahaya dari penggunaan smartphone pada anak yang tidak terkontrol.

Back to Top